Kelahiran Nabi Muhammad saw memang tidak terlepas dari peristiwa-peristiwa ajaib yang terjadi. Kejadian di luar kebiasaan itu menandakan lahirnya era baru bagi kehidupan manusia. Kebahagiaan tidak hanya dirasakan oleh Aminah ibunda Rasulullah, tapi seluruh isi dunia ikut merasakannya. Bahkan dikatakan bahwa hari kelahiran Nabi Muhammad saw menjadi hari yang membahagiakan sepanjang matahari terbit.
Tak ingin merasa bahagia sendiri, Aminah pun mengirimkan utusan untuk menyampaikan kabar gembira kepada sang mertua, Abdul Muthalib. Sang mertua pun berbinar mendengar kabar tersebut. Orang yang menyampaikan kabar gembira itu adalah Tsuwaibah Al-Aslamiyah, dia juga yang mengabarkan kelahiran Nabi Muhammad saw kepada pamannya Abu Lahab. Saking gembiranya sampai-sampai ia memerdekakan budaknya itu.
Baca Juga: Maulid Nabi, Momentum Meneladani Akhlak Rasulullah Lewat Cara yang Sesuai Syariat
Setelah Tsuwaibah merdeka, Abdul Muthalib memintanya untuk menyususi Nabi Muhammad saw. Sebagaimana tradisi Arab saat itu bahwa anak yang baru dilahirkan akan dicarikan ibu susu. Begitupun Nabi yang juga disusukan kepada beberapa ibu, Tsuwaibah menjadi wanita pertama setelah Sayyidah Aminah yang menyusui Nabi Muhammad saw. Sebelumnya Tsuwaibah juga pernah menyusui Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi) dan Abu Salamah bin Abdul Asad Al-Makhzumi.
Tujuan utama dari menyusukan seorang bayi yang baru dilahirkan kepada ibu susu lain, yaitu menjauhkan anak dari penyakit yang ada di kota, juga agar anak memiliki fisik dan jiwa yang kuat serta fasih dalam berbahasa.
Tsuwaibah menyusui Nabi Muhammad selama beberapa hari setelah kelahirannya, sebelum kemudian Rasulullah saw disusui oleh Halimah as-Sa’diyah dan tinggal di Desa Bani Sa’ad selama beberapa tahun.
Baca Juga: Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad Menurut Ulama Hadis
Atas jasa Tsuwaibah tersebut, Rasulullah tak pernah melupakannya dan selalu mencari serta menjalin hubungan baik dengan Tsuwaibah selama di Makkah. Begitupun sang istri Sayyidah Khadijah yang sangat menghormati Tsuwaibah. Nabi Muhammad saw juga memenuhi segala kebutuhan ibu susunya mulai dari makanan sampai pakaian, hingga Tsuwaibah Al-Aslamiyah wafat pada tahun ke 7 Hijriah.
Kisah Tsuwaibah menunjukkan bahwa peran sederhana dapat meninggalkan jejak besar dalam sejarah. Sebagai wanita pertama yang menyusui Nabi Muhammad, ia menjadi bagian tak terpisahkan dari awal kehidupan Rasul. Melalui kisah ini, kita diajak untuk lebih menghargai peran orang-orang yang sering terlupakan, namun memiliki kontribusi besar dalam membentuk peradaban.
Yuk! Zakat, infak, dan sedekah bersama LAZ Al Azhar. Hadirkan kebahagiaan dan kebermanfaatan yang lebih luas. Klik di sini.