Semangat kemandirian terpancar nyata dari Desa Dondong, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Di sana, para peternak yang tergabung dalam Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Kutut Manggung membuktikan bahwa ketekunan adalah kunci utama dalam menghadapi tantangan ekonomi.
Soimah Syamsul Hadi: Dedikasi Petani "Ngarit"
Sebagai Ketua KSM Kutut Manggung, Soimah Syamsul Hadi telah mendedikasikan enam tahun hidupnya di dunia peternakan. Bagi Soimah, menjadi peternak berarti harus siap bersahabat dengan cuaca. Tanpa memedulikan terik matahari maupun guyuran hujan, ia tetap setia mencari rumput (ngarit) demi memastikan ternaknya tumbuh dengan baik.
Meski fluktuasi harga ternak sering kali tidak menentu, semangatnya untuk mencukupi kebutuhan keluarga tidak pernah luntur. Saat ini, ia mengelola 25 ekor domba dan kambing milik pribadi, serta 5 ekor milik kelompok. Menjelang Iduladha atau “Bulan Besar”, Soimah menaruh harapan besar agar harga pasar melonjak. Hasil penjualan tersebut diperkirakan mampu menopang kebutuhan keluarganya selama 11 bulan ke depan.
Kandang komunal yang didukung oleh LAZ Al-Azhar menjadi pilar penting bagi kelompok ini, khususnya sebagai pusat penghimpunan hewan kurban yang berkualitas.
Muhammad Ihror: Beribadah melalui Beternak
Semangat serupa juga ditunjukkan oleh Muhammad Ihror (65), atau yang akrab disapa Mbah Asror. Di usia senjanya, ia membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk tetap produktif. Meski hidup seorang diri, Mbah Asror mampu bertahan hidup mandiri melalui usaha peternakan.
Keberhasilan Mbah Asror tidak hanya terlihat dari pendapatan materi, tetapi juga dari nilai spiritual yang ia raih. Melalui sistem bagi hasil KSM dan usaha pribadinya, ia mampu menunaikan ibadah kurban serta bersedekah akikah. Baginya, beternak bukan sekadar mencari nafkah, melainkan jalan untuk meraih pahala. Tahun ini, ia berharap hasil panen ternaknya kembali membawa keberkahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.