Hari Kebangkitan Nasional: Masihkah Kita Benar-Benar Bangkit?

Hari Kebangkitan Nasional: Masihkah Kita Benar-Benar Bangkit?


Risdawati
20/05/2026
31 VIEWS
SHARE

Tanggal 20 Mei setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Di sekolah, kantor pemerintahan, hingga media sosial, ucapan tentang persatuan dan perjuangan kembali ramai bermunculan. Nama Boedi Oetomo kembali disebut. Sejarah tentang lahirnya kesadaran nasional di tengah penjajahan kembali diingat dan diputar ulang dalam berbagai pidato maupun peringatan resmi.

Namun pertanyaannya, apakah Hari Kebangkitan Nasional hari ini masih benar-benar dimaknai sebagai kebangkitan? Ataukah ia perlahan berubah menjadi sekadar seremoni tahunan yang selesai dalam beberapa menit upacara, lalu kembali dilupakan setelah peringatannya usai?

Dahulu, kebangkitan nasional lahir dari kesadaran bahwa penjajahan tidak boleh dibiarkan. Bangsa ini dipersatukan oleh satu semangat yang sama: melawan ketidakadilan dan mempertahankan martabat manusia. Para pendahulu bangsa memahami bahwa diam terhadap penindasan hanya akan memperpanjang luka dan memperkuat rantai penjajahan itu sendiri. Ironisnya, di masa sekarang, semangat itu justru terasa semakin kabur.

Ketika Penjajahan Masih Terjadi di Depan Mata

Indonesia memiliki amanat konstitusi yang jelas bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Kalimat itu bukan sekadar pembuka Undang-Undang Dasar, melainkan nilai moral yang sejak awal menjadi pijakan berdirinya bangsa ini.

Namun, dalam realitas global hari ini, suara keberpihakan terhadap rakyat tertindas sering kali terdengar setengah hati. Di saat dunia menyaksikan kehancuran Palestina akibat agresi Zionis Israel, banyak masyarakat justru melihat adanya sikap yang terasa semakin lunak terhadap pihak penjajah.

Di berbagai belahan dunia, masyarakat sipil bergerak menyuarakan solidaritas kemanusiaan. Demonstrasi berlangsung di kampus, jalan-jalan kota, hingga forum internasional. Tetapi di tengah gelombang solidaritas itu, publik Indonesia juga menyaksikan berbagai pernyataan dan sikap yang dianggap tidak cukup tegas terhadap penjajahan yang sedang berlangsung.

Belum lagi kabar mengenai warga negara Indonesia yang ikut dalam pelayaran kemanusiaan Global Sumud Flotilla dan mengalami penangkapan di perairan internasional. Peristiwa seperti ini seharusnya tidak hanya menjadi berita lewat semata, tetapi juga menjadi alarm bahwa perjuangan melawan penjajahan belum benar-benar selesai.

Sebab selama masih ada manusia yang dirampas hak hidup, tanah, dan kemerdekaannya, maka semangat kebangkitan seharusnya belum boleh padam.

Kritik yang Kerap Dianggap Ancaman

Di sisi lain, keadaan di dalam negeri juga menghadirkan ironi tersendiri. Aktivis, jurnalis, akademisi, hingga masyarakat sipil yang bersuara kritis kerap dicurigai, diberi label “antek asing”, atau dianggap mengganggu stabilitas. Padahal kritik merupakan bagian penting dari demokrasi dan tanda bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian terhadap arah bangsa.

Dalam sejarahnya, kebangkitan nasional justru lahir dari keberanian berpikir dan keberanian bersuara. Para pelajar, wartawan, tokoh pergerakan, hingga organisasi masyarakat dahulu tidak memilih diam ketika melihat ketidakadilan. Mereka sadar bahwa bangsa yang takut bersuara akan lebih mudah kehilangan arah. Karena itu, menjadi ironi ketika kritik hari ini lebih sering dipandang sebagai ancaman dibandingkan sebagai bentuk kepedulian.

Tema yang Terdengar Indah, tetapi Terasa Jauh

Tema Hari Kebangkitan Nasional tahun ini, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, membawa pesan tentang pentingnya menjaga generasi muda sebagai aset bangsa demi memperkuat kedaulatan Indonesia, baik dalam bidang pendidikan, teknologi, sosial, budaya, maupun pembangunan nasional. Namun di saat yang sama, tema itu terasa kontras dengan realitas yang banyak dirasakan masyarakat.

Bagaimana generasi muda dapat benar-benar tumbuh kritis jika suara-suara yang berbeda justru mudah dicurigai? Bagaimana kedaulatan dibicarakan dengan penuh semangat, sementara ketergantungan terhadap kepentingan asing masih begitu besar di berbagai sektor?

Yang membuat banyak orang semakin gelisah adalah ketika tuduhan terhadap rakyat justru muncul bersamaan dengan kedekatan sebagian elit terhadap kepentingan kapital asing. Bahkan tidak sedikit perusahaan global yang memiliki keterkaitan dengan dukungan terhadap penjajahan dan kekerasan kemanusiaan di Palestina tetap diberi ruang begitu besar dalam berbagai sektor kehidupan.

Di titik inilah Hari Kebangkitan Nasional seharusnya kembali menemukan makna sejatinya.

Bangkit Bukan Sekadar Mengingat

Kebangkitan bukan sekadar mengenang sejarah perjuangan, tetapi keberanian untuk tetap memiliki nurani di tengah arus dunia yang perlahan membuat manusia terbiasa melihat ketidakadilan. Kebangkitan adalah kesadaran untuk tidak mudah diam ketika kemanusiaan diinjak.

Kebangkitan juga berarti keberanian untuk berpikir jernih, bersikap kritis, serta tetap berpihak pada nilai keadilan, meski sering kali terasa tidak populer dan menghadirkan konsekuensi. Sebab bangsa ini tidak lahir dari sikap tunduk kepada penjajahan. Bangsa ini lahir dari keberanian melawannya.

Oleh karena itu, Hari Kebangkitan Nasional semestinya tidak berhenti sebagai agenda tahunan yang hanya dipenuhi slogan dan formalitas. Ia seharusnya menjadi momen untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kita masih memiliki keberanian moral seperti para pendahulu bangsa, atau justru perlahan mulai kehilangan keberanian itu?

Karena kebangkitan yang sesungguhnya bukan terjadi saat bendera dikibarkan atau pidato dibacakan. Kebangkitan yang sesungguhnya lahir ketika hati dan kesadaran bangsa ini kembali hidup, untuk membela kemanusiaan, menjaga keadilan, serta tidak pernah terbiasa melihat penjajahan sebagai sesuatu yang normal.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA