Dunia Bukan untuk Mengejar Approval Manusia

Dunia Bukan untuk Mengejar Approval Manusia


Risdawati
09/01/2026
33 VIEWS
SHARE

Dalam perjalanan hidup, manusia sering kali tanpa sadar terjebak pada keinginan untuk diakui dan dinilai baik oleh orang lain. Kita ingin dianggap berhasil, ingin dipuji atas pencapaian, dan ingin pilihan hidup kita diterima oleh lingkungan sekitar. Keinginan ini perlahan membentuk cara kita bersikap, berbicara, bahkan memengaruhi keputusan-keputusan penting dalam hidup. Tidak sedikit orang yang akhirnya melakukan sesuatu bukan karena keyakinan hati, melainkan karena takut tidak sesuai dengan ekspektasi orang lain atau khawatir dianggap kurang oleh dunia. Padahal, dunia ini tidak diciptakan sebagai panggung pembuktian diri, dan hidup bukanlah kompetisi untuk menunjukkan siapa yang paling hebat atau paling sempurna di mata manusia. 

Standar penilaian manusia sejatinya sangat rapuh dan terus berubah. Apa yang hari ini dipuji, bisa saja esok hari dilupakan. Apa yang dianggap hebat oleh sebagian orang, belum tentu bernilai bagi yang lain. Ketika hidup digantungkan pada approval manusia, hati akan mudah merasa lelah dan gelisah, karena terus berusaha memenuhi harapan yang tidak pernah benar-benar selesai. Mengejar validasi dunia sering kali membuat seseorang kehilangan ketenangan batin, sebab kebahagiaannya ditentukan oleh penilaian yang berada di luar kendali dirinya sendiri. Dalam kondisi seperti ini, hidup terasa penuh tekanan, seolah tidak pernah cukup dan selalu harus membuktikan sesuatu.

Islam hadir untuk meluruskan arah pandang manusia tentang nilai dan makna hidup, bahwa ukuran kemuliaan seorang hamba tidak ditentukan oleh seberapa besar pengakuan manusia terhadapnya, melainkan bagaimana Allah Swt memandang hati dan amal perbuatannya. Rasulullah saw menegaskan bahwa yang menjadi tolok ukur di sisi Allah Swt bukanlah apa yang terlihat oleh manusia atau apa yang dimiliki di dunia, melainkan bagaimana hati dijaga dan amal dijalani dengan sungguh-sungguh. Dalam sebuah hadis Beliau saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).

Hadis ini mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak kecil dan tersembunyi di mata manusia bisa jadi sangat besar nilainya di sisi Allah Swt. Ketulusan niat, kejujuran dalam beramal, dan kesungguhan menjaga hati adalah perkara-perkara yang sering luput dari perhatian manusia, namun justru itulah yang paling diperhitungkan oleh Allah Swt

Al-Qur’an pun mengingatkan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara dan tidak layak dijadikan tujuan utama. Allah Swt berfirman:

“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan perbuatan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16).

Ayat ini menjadi peringatan bahwa tujuan hidup yang hanya berfokus pada dunia, pujian, dan pengakuan manusia pada akhirnya akan berujung pada kehampaan. Semua validasi dunia pada akhirnya akan sirna, jabatan akan ditinggalkan, pujian akan dilupakan, dan nama akan perlahan memudar. Yang tersisa hanyalah catatan amal dan pandangan Allah Swt terhadap diri serta hati seorang hamba. 

Ketika seseorang mulai meluruskan niat hidupnya, ia akan menyadari bahwa tidak semua kebaikan harus terlihat dan tidak semua perjuangan harus dipahami oleh manusia. Ada amal-amal sunyi yang dilakukan tanpa sorotan, tanpa tepuk tangan, dan tanpa pengakuan manusia, namun justru amal-amal itulah yang paling jujur dan paling bernilai. Di sisi Allah Swt hidup tidak lagi dijalani untuk membuktikan apa pun kepada manusia, melainkan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah Swt yang Maha Mengetahui setiap detak hati dan setiap niat yang tersembunyi.

Melepaskan diri dari ketergantungan pada approval manusia bukan berarti menutup diri dari nasihat atau mengabaikan adab sosial. Sebaliknya, ini upaya untuk menempatkan penilaian Allah Swt sebagai tujuan utama dalam setiap langkah kehidupan. Ketika rida Allah Swt menjadi tujuan, hati akan terasa lebih tenang, langkah menjadi lebih ringan, dan hidup dijalani dengan kesadaran yang lebih utuh. Sebab pada akhirnya, yang akan diminta pertanggungjawaban bukanlah bagaimana manusia menilai kita, melainkan bagaimana kita menjaga iman, meluruskan niat, dan menjalani hidup dengan penuh keikhlasan di hadapan Allah Swt.

 

Author: Nurul Aisyah Rahmawati

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA