Jika Hati Tak Berubah, Apa Arti Puasa?

Jika Hati Tak Berubah, Apa Arti Puasa?


Nurul Aisyah
22/02/2026
18 VIEWS
SHARE

Setiap Ramadan datang membawa suasana yang lebih religius dan penuh semangat ibadah. Masjid menjadi lebih ramai, tilawah semakin sering terdengar, dan kepedulian sosial terasa meningkat di tengah masyarakat. Namun di balik suasana yang tampak lebih baik itu, ada pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri: jika hati tak berubah, apa arti puasa yang kita jalani? Puasa bukan sekadar rutinitas tahunan atau sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan proses pembinaan diri yang seharusnya membentuk karakter, memperhalus akhlak, dan memperbaiki cara kita bersikap kepada Allah maupun kepada sesama.

Secara lahiriah, puasa memang menahan makan dan minum sejak fajar hingga magrib. Akan tetapi, maknanya jauh lebih dalam dari sekadar menahan kebutuhan fisik. Jika setelah berpuasa lisan masih mudah menyakiti, emosi tetap sulit dikendalikan, dan hati masih dipenuhi prasangka buruk, maka puasa belum benar-benar menyentuh esensinya. Rasulullah saw bersabda:

“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Hadis ini mengingatkan bahwa puasa yang bernilai adalah puasa yang menghadirkan perubahan nyata dalam akhlak dan perilaku sehari-hari. Allah Swt berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Tujuan puasa adalah melahirkan ketakwaan, yaitu kesadaran untuk selalu menjaga diri di hadapan Allah dalam setiap keadaan. Ketakwaan itu tercermin dalam kejujuran, kesabaran, kemampuan menahan amarah, serta kesungguhan menjauhi perbuatan yang dilarang. Puasa seharusnya melatih kita untuk lebih mampu mengendalikan hawa nafsu dan lebih peka terhadap kondisi orang lain, sehingga ibadah ini tidak berhenti pada aspek fisik, tetapi menyentuh pembentukan jiwa.

Karena itu, Ramadan bukan hanya tentang meningkatnya aktivitas ibadah selama satu bulan, melainkan tentang perubahan yang tetap hidup setelahnya. Puasa menjadi bermakna ketika ia membuat hati lebih lembut, ucapan lebih terjaga, dan tindakan lebih mencerminkan nilai-nilai kebaikan. Maka sebelum Ramadan berlalu, mari kita bertanya dengan jujur: apakah puasa ini telah benar-benar mengubah diri kita? Jika hati tetap sama seperti sebelumnya, apa arti puasa?

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA