Bulan Sya’ban: Momentum Taubat dan Persiapan Terbaik Menuju Ramadan

Bulan Sya’ban: Momentum Taubat dan Persiapan Terbaik Menuju Ramadan


Risdawati
20/01/2026
16 VIEWS
SHARE

Setelah berakhirnya bulan Rajab, umat Islam memasuki bulan Sya’ban, sebuah fase penting yang menjadi penghubung menuju datangnya bulan suci Ramadan. Meski berada di antara dua bulan mulia, Sya’ban kerap luput dari perhatian. Padahal, dalam banyak riwayat, bulan ini memiliki keutamaan besar dan menyimpan berbagai peristiwa penting yang patut direnungi sebagai bekal menata iman dan ibadah.

Rasulullah saw menyebut Sya’ban sebagai bulan yang sering dilalaikan manusia. Dalam sebuah hadis sahih, beliau bersabda:

“Itu adalah bulan yang sering dilupakan manusia, terletak antara Rajab dan Ramadan. Bulan tersebut adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam. Dan aku suka ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Hadis ini menegaskan bahwa Sya’ban merupakan momentum penting untuk memperbanyak ibadah dan melakukan introspeksi diri sebelum memasuki Ramadan.

Rasulullah saw Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban

Keutamaan bulan Sya’ban tercermin jelas dalam teladan Nabi Muhammad saw. Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa Rasulullah saw tidak pernah berpuasa sunnah sebanyak di bulan Sya’ban. Hal ini menunjukkan bahwa Sya’ban adalah waktu yang sangat dianjurkan untuk membiasakan diri dengan ibadah puasa, sekaligus melatih kesiapan fisik dan ruhani sebelum Ramadan. Pada bulan ini juga, Allah Swt melimpahkan berbagai bentuk kebaikan kepada hamba-Nya, mulai dari maghfirah (ampunan), syafaat (pertolongan), hingga pembebasan dari siksa api neraka. Karena itu, para ulama memandang Sya’ban sebagai bulan pembersihan diri dan pembenahan niat.

Keistimewaan Nisfu Sya’ban

Keutamaan bulan Sya’ban semakin terasa pada pertengahannya, yang dikenal dengan Nisfu Sya’ban, yakni malam dan hari tanggal lima belas. Kaum Muslimin meyakini bahwa pada malam tersebut catatan amal manusia yang ditulis oleh malaikat Raqib dan Atid diserahkan kepada Allah Swt, sekaligus menjadi momen pergantian catatan amal tahunan. Keyakinan ini mendorong umat Islam untuk memperbanyak taubat, doa, dan amal saleh, agar catatan amal yang diangkat berada dalam keadaan terbaik.

Tiga Peristiwa Besar yang Terjadi di Bulan Sya’ban

Selain keutamaannya dari sisi ibadah, bulan Sya’ban juga mencatat beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam.

Pertama, peralihan kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram.

Peristiwa monumental ini terjadi pada bulan Sya’ban. Dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Al-Qurthubi mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti bahwa perintah peralihan kiblat turun pada malam Selasa di bulan Sya’ban, bertepatan dengan malam Nisfu Sya’ban. Allah Swt mengabadikan peristiwa ini dalam Surah Al-Baqarah ayat 144:

“Sungguh Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana pun kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah: 144)

Penjelasan ini menegaskan bahwa peralihan kiblat bukan sekadar perubahan arah fisik dalam ibadah, melainkan bukti kedekatan Rasulullah saw dengan Allah Swt serta bentuk penguatan risalah Islam pada fase penting sejarah umat. Ayat ini juga menunjukkan bahwa doa, harapan, dan ketaatan Nabi senantiasa berada dalam bimbingan langsung wahyu Ilahi.

Kedua, penyerahan rekapitulasi amal tahunan.

Dalam hadis riwayat An-Nasa’i yang dikutip oleh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, dijelaskan bahwa pada bulan Sya’ban seluruh amal manusia selama setahun diangkat kepada Allah Swt. Inilah salah satu alasan Rasulullah saw memperbanyak puasa di bulan ini, agar amalnya diangkat dalam keadaan terbaik.

Ketiga, turunnya ayat anjuran bersalawat kepada Nabi.

Bulan Sya’ban juga menjadi saksi turunnya Surah Al-Ahzab ayat 56, yang memerintahkan kaum mukmin untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad saw:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Ayat ini menunjukkan kedudukan istimewa Rasulullah saw di sisi Allah Swt serta menegaskan bahwa memperbanyak shalawat merupakan amalan mulia yang menghubungkan cinta seorang hamba kepada Nabi dengan kecintaan Allah dan para malaikat. Karena itu, bulan Sya’ban oleh sebagian ulama disebut sebagai bulan shalawat, sebagai bentuk persiapan ruhani menyambut datangnya bulan Ramadan.

Momentum Persiapan Menuju Ramadan

Dengan seluruh keutamaan dan peristiwa besar yang terjadi di dalamnya, bulan Sya’ban sejatinya adalah bulan persiapan menuju Ramadan. Inilah waktu terbaik untuk memperbanyak puasa sunnah, memperbaiki kualitas ibadah, memperbanyak shalawat, serta memohon ampunan dan meluruskan niat. Memahami makna dan keutamaan bulan Sya’ban diharapkan dapat menjauhkan umat Islam dari sikap lalai, sekaligus menuntun hati agar lebih siap menyambut Ramadan dengan iman yang lebih matang dan jiwa yang lebih bersih.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA