Islam memandang manusia sebagai makhluk yang tidak hanya terdiri dari jasad, tetapi juga memiliki hati dan jiwa yang bisa lelah, terluka, bahkan rapuh oleh berbagai pengalaman hidup. Dalam realitas keseharian, tidak semua luka tampak di permukaan. Banyak orang tetap menjalani aktivitas, bekerja, tersenyum, dan berinteraksi seperti biasa, padahal di dalam dirinya sedang berlangsung pergulatan batin yang berat. Islam mengajarkan bahwa kondisi batin manusia adalah perkara yang sangat diperhatikan oleh Allah Swt, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang menyadarinya. Setiap rasa sedih, cemas, dan letih yang dipendam tidak pernah luput dari pengetahuan-Nya.
Orang yang sedang terluka jiwanya sering kali tampak sibuk, bukan karena hidupnya ringan, melainkan karena ia sedang berjuang keras melawan pikirannya sendiri. Kesibukan itu bisa berupa usaha bertahan dari rasa putus asa, melawan bisikan yang merendahkan diri, atau menghadapi perasaan tidak berharga. Padahal Allah Swt telah menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan mulia dan memiliki nilai di sisi-Nya. Allah Swt berfirman:
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra: 70)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kondisi mental, kesuksesan duniawi, atau penilaian orang lain, melainkan oleh kedudukannya sebagai makhluk yang dimuliakan oleh Allah Swt.
Selain itu, kesibukan lain yang sering dialami adalah berusaha mengabaikan luka masa lalu yang terus menghantui. Kenangan pahit, kehilangan orang tercinta, kegagalan, atau perlakuan tidak adil bisa meninggalkan jejak yang dalam di hati. Luka-luka ini sering muncul kembali tanpa diundang, membuat seseorang merasa lelah secara emosional. Islam memahami kondisi ini dan menegaskan bahwa Allah Swt Maha Mengetahui isi hati setiap hamba-Nya. Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa apa yang tersembunyi di dalam hati memiliki kedudukan besar dalam Islam, dan perjuangan batin seorang hamba bernilai di sisi Allah Swt.
Tidak sedikit pula orang yang sibuk menenangkan pikirannya dari ketakutan terhadap masa depan. Kekhawatiran tentang hal-hal yang belum tentu terjadi sering kali menimbulkan kecemasan yang berkepanjangan. Islam tidak menafikan adanya rasa takut dan gelisah dalam diri manusia, karena perasaan tersebut adalah bagian dari fitrah. Namun, Allah Swt memberikan jalan ketenangan melalui kedekatan dengan-Nya. Allah Swt berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan sejati bukan selalu hadir melalui penghilangan masalah, tetapi melalui hati yang terhubung dengan Allah Swt.
Dalam menyikapi orang-orang yang sedang berjuang dengan luka batinnya, Islam tidak mengajarkan sikap menghakimi atau meremehkan. Sebaliknya, Islam menekankan kasih sayang, empati, dan kelembutan dalam memperlakukan sesama. Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi dasar bahwa sikap welas asih bukan hanya akhlak mulia, tetapi juga bagian dari keimanan seorang Muslim.
Menyayangi orang yang sedang terluka tidak selalu berarti memberi nasihat panjang atau memaksa mereka segera bangkit. Terkadang, bentuk cinta yang paling tulus adalah memberi ruang, waktu, dan rasa aman untuk pulih. Mendengarkan tanpa menghakimi, menemani tanpa menuntut, serta mendoakan tanpa diketahui adalah bentuk ibadah yang sering kali luput disadari. Islam mengajarkan bahwa setiap luka memiliki proses, dan setiap proses membutuhkan kesabaran. Dengan memberi ruang untuk pulih, seorang Muslim tidak hanya membantu sesamanya, tetapi juga meneladani sifat rahmah yang dicintai oleh Allah Swt.