Memasuki bulan Syaban menjadi penanda bahwa bulan suci Ramadan semakin dekat. Bulan ini sering dipandang sebagai masa persiapan penting bagi umat Islam, baik secara fisik, mental, maupun keimanan. Selain menjadi waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah sunnah, bulan Syaban juga dimanfaatkan oleh banyak Muslim untuk menyelesaikan kewajiban ibadah yang tertunda, salah satunya adalah mengqadha puasa Ramadan tahun sebelumnya. Pembahasan mengenai puasa Syaban sekaligus qadha Ramadan menjadi hal penting agar umat Islam dapat menjalankan ibadah dengan benar dan penuh kesadaran.
Dalam kajian fikih Islam, praktik menggabungkan niat puasa wajib dengan puasa sunnah dikenal dengan istilah at-tasyrik. Maksudnya adalah mengerjakan satu ibadah dengan dua niat sekaligus, selama ibadah wajib tetap menjadi tujuan utama. Para ulama menjelaskan bahwa penggabungan niat ini dibolehkan dalam konteks puasa qadha Ramadan yang dilakukan di bulan Syaban, karena puasa qadha memiliki kewajiban tersendiri, sementara puasa Syaban mengikuti keutamaan waktu. Dengan demikian, puasa tetap sah sebagai qadha, dan pelakunya juga memperoleh keutamaan Syaban.
Kebolehan melaksanakan qadha puasa Ramadan di bulan Syaban memiliki dasar yang kuat dalam hadis Nabi Muhammad saw. Aisyah ra meriwayatkan bahwa dirinya pernah memiliki utang puasa Ramadan dan baru dapat menunaikannya di bulan Syaban. Ia berkata:
“Aku memiliki utang puasa Ramadan, dan aku tidak mampu mengqadhanya kecuali di bulan Syaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa mengqadha puasa Ramadan hingga bulan Syaban diperbolehkan, selama belum memasuki bulan Ramadan berikutnya. Para ulama kemudian menjelaskan bahwa puasa qadha yang dilakukan di bulan Syaban tetap sah dan tidak mengurangi nilai ibadahnya.
Sejumlah ulama, di antaranya Imam As-Suyuthi dalam kitab Al-Asybah wa An-Nazhair, menjelaskan bahwa seseorang yang melaksanakan puasa qadha atau puasa nazar, lalu meniatkannya sekaligus dengan puasa sunnah, tetap mendapatkan pahala dari keduanya. Namun, para ulama menegaskan bahwa niat puasa wajib harus menjadi niat utama agar ibadah tersebut sah secara hukum. Puasa sunnah mengikuti dan menyempurnakan nilai ibadah tersebut, bukan menggantikannya.
Niat Puasa Syaban
Dalam Islam, niat merupakan pondasi utama dalam setiap ibadah. Puasa sunnah Syaban harus diawali dengan niat yang dihadirkan secara sadar di dalam hati. Niat puasa Syaban dapat dibaca sejak malam hari setelah salat Isya hingga sebelum waktu imsak. Adapun bacaan niat puasa sunnah Syaban adalah sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ شَعْبَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma sya‘bāna lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Aku berniat puasa Syaban karena Allah Swt.”
Niat Puasa Qadha Ramadan
Berbeda dengan puasa sunnah, niat puasa qadha Ramadan sebaiknya dilakukan sejak malam hari hingga sebelum terbit fajar, sebagaimana ketentuan puasa wajib. Bacaan niat puasa qadha Ramadan adalah sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an qaḍā’i farḍi syahri Ramaḍāna lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Aku berniat mengqadha puasa fardhu bulan Ramadan esok hari karena Allah Swt.”
Menggabungkan Niat Puasa Syaban dan Qadha Ramadan
Apabila seseorang ingin menggabungkan puasa qadha Ramadan dengan puasa sunnah Syaban, maka niat qadha tetap harus diutamakan. Dalam praktiknya, niat cukup dihadirkan dalam hati dengan kesadaran bahwa puasa tersebut bertujuan untuk menggugurkan kewajiban qadha, sekaligus berharap mendapatkan keutamaan puasa Syaban. Dengan cara ini, ibadah tetap sah secara fikih dan bernilai pahala secara maksimal.
Puasa di bulan Syaban, baik sunnah maupun qadha, sejatinya merupakan bentuk kesiapan menyambut Ramadan. Ia melatih kedisiplinan, memperkuat niat ibadah, serta membersihkan tanggungan sebelum memasuki bulan suci. Dengan memahami hukum, niat, dan tata caranya secara benar, umat Islam diharapkan dapat menjalankan puasa Syaban sekaligus qadha Ramadan dengan lebih tenang, mantap, dan penuh keikhlasan.